banten88
LIVEKompleks Masjid Agung Banten lebih tepat dibaca sebagai bangunan berlapis, bukan satu rancangan yang selesai dalam satu masa. Catatan pembangunan menempatkan pendirian pertama pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin; pawestren ditambahkan pada masa Sultan Maulana Muhammad (1580β1586), sedangkan menara hadir pada 1632 dan tiyamah ditambahkan sekitar periode yang sama [1]. Dalam pembahasan BANTEN88, tiga petunjuk iniβmenara, perubahan tata ruang, dan hubungan dengan para sultanβmembantu merangkai gambaran arsitekturnya.
Menara yang mengingatkan pada mercusuar
Menara masjid ini setinggi 24 meter dan dikenal karena bentuknya yang mirip bangunan mercusuar. Menara tersebut ditambahkan pada 1632 dan dirancang oleh Cek-ban-cut, seorang Tionghoa [1]. Perbandingan dengan mercusuar membantu menggambarkan siluetnya; yang dibicarakan adalah kemiripan bentuk, bukan fungsi bangunannya.
Tata ruang dengan fungsi yang beragam
Pawestren, yaitu aula samping yang digunakan sebagai musala perempuan, ditambahkan pada masa Sultan Maulana Muhammad (1580β1586) [1]. Keberadaannya menunjukkan bahwa kompleks ini memiliki ruang samping dengan fungsi ibadah tersendiri.
Serambi selatan kemudian diubah menjadi area makam yang berisi sekitar 15 kuburan [1]. Ruang ibadah dan ruang pemakaman dengan demikian berada dalam satu kompleks. Tata ruangnya dapat dibaca bukan hanya dari bagian yang digunakan untuk salat, tetapi juga dari perubahan fungsi ruang di sekitarnya.
Perpaduan gaya yang tampak pada bangunan
Arsitektur Masjid Agung Banten digambarkan sebagai eklektik, dengan pengaruh Islam, Hindu, Buddha, Tionghoa, dan Belanda yang berbaur dengan budaya Jawa [1]. Karena itu, kompleks ini kurang tepat diringkas sebagai bangunan yang hanya mewakili satu gaya.
Salah satu contohnya ialah tiyamah dua lantai bergaya Belanda, yang dirancang oleh Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang Belanda yang masuk Islam [1]. Unsur Baroque Eropa awal juga disebut terlihat pada menara, tiyamah, dan dinding masjid [1]. Rincian tersebut memperlihatkan beberapa lapisan pengaruh dalam satu kompleks, tanpa menghapus kaitannya dengan budaya Jawa.
Kesultanan terbaca lewat urutan dan makam
Hubungan kompleks ini dengan Kesultanan Banten tampak dalam kronologi pembangunannya dan makam-makam yang berada di sana. Kompleks pemakaman mencakup makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, serta Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, bersama beberapa makam lain [1].
Jika dibaca bersama, bentuk menara, perubahan ruang, dan makam menyusun gambaran sejarah yang berlapis: masjid dikaitkan dengan Sultan Maulana Hasanuddin, sejumlah bagian ditambahkan pada masa penguasa berikutnya, dan makam menghadirkan nama-nama sultan di dalam kompleks [1]. Sejarah arsitekturnya pun dapat dipahami sebagai rangkaian tahap yang terhubung dengan Kesultanan serta percampuran pengaruh budaya.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia β Masjid Agung Banten. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29712517&title=Masjid_Agung_Banten (diakses 2026-10-02).